Februari
Bulan ini, hujan turun dan menjadi latar banyak cerita bagi orang-orang di sekitarku. Dalam cerita-cerita itu, hujan menenani mereka menangis dan mendekatkan hati-hati yang jauh.
Bulan ini, hujan turun perlahan. Rintiknya menemani air yang meleleh perlahan dari mata seorang gadis. Walau kadang bagai garam bagi luka, tapi rintik hujan setia menepuk pundak gadis ini, siap menghanyutkan sedihnya sampai ke laut.
Bulan ini, hujan turun syahdu. Rintiknya membuat orang-orang berkumpul di bawah payung warna-warni. Angin yang dingin melewati sela-sela jari tangan, membuat dua tangan itu bertautan, membawa segurat senyum di wajah gadis itu. Hujan yang turun dari langit tak berbintang menghilangkan keraguan dalam hati.
Bulan ini, seorang gadis akhirnya menyukai hujan… walau sedikit. Setidaknya ia sepertinya telah belajar melepaskan tanpa melupakan. Ia tak lagi menyalahkan hujan yang turun karena membawa dirinya ke masa lalu. Hujan, diam-diam, telah mendewasakannya.
… Bulan ini, aku selalu menanti hujan, seperti biasanya. Bau tanah yang basah mengingatkanku pada kamu yang kini tak lagi jadi fatamorganaku. Rintik hujan diam-diam membawa pergi segumpal rasa itu, dan hatiku kini kosong.
Semoga di hari-hari yang akan mengubah hidupku, hujan turun perlahan. Supaya aku tidak sendirian. Supaya aku bisa mengingatnya di hari hujan lainnya. Supaya suatu hari aku bisa duduk di samping seseorang dan menumpahkan kisah-kisah itu, sebagaimana langit menumpahkan ribuan liter air ke bumi. Supaya seseorang itu mengingatku dan kisah-kisahku setiap kali hujan turun.
Supaya…
Supaya…
Supaya..
Supaya.
yours,
Alline.