Kemana kita pergi?
Kemana kita pergi, wahai Pak Masinis?
Aku sudah duduk cukup lama. Kereta yang kau bawa ini seakan tak akan berhenti. Perasaanku makin lama makin khawatir, siapa tahu aku tersesat. Apakah memang sesulit itu memberi tahu kemana tujuan kita?
Perlu kuulangi lagi, kalau aku takut tersesat?
Aku takut pergi terlalu jauh. Aku takut tak bisa kembali.
‘Kan kalau memang tujuanmu bukan tujuanku, aku bisa melompat dari jendela sampingku. Ya, walaupun aku nanti luka-luka sedikit. Tak apa. Nanti juga disembuhkan waktu. Tidak apa-apa.
Jika Pak Masinis menjawab, “lihat saja dulu pemandangannya”
aku akan menjawab bahwa aku punya tujuan yang lain yang mungkin bisa kucapai dengan kereta yang lain.
Ya, walau aku sudah terbiasa duduk di kursi empuk di gerbong keretamu,
mungkin aku bisa menemukan kursi seempuk ini, di gerbong kereta lain.
Mungkin.
Jadi, Pak Masinis,
kemana kita pergi?