personal entry #1: regrets

A(n) journal published on

Hello. Akhirnya nge-blogging lagi, ya. Hehehe. A few weeks ago, I posted my first FF. Then, a friend asked me if I could post a story I wrote a few years ago. I told her that I deleted the blog and I don’t have a copy of it…

…. until I found a note book which contains the story. Will post it later. 

Akhir cerita itu adalah penyesalan kedua tokohnya. Kata-kata terakhirnya: “if only.” Momen gue menemukan buku itu pas banget karena gue sedang mempertanyakan arti dan tujuan hidup gue. Oh, ya. Sebelumnya, gue akan melampirkan sebuah paragraf yang gue tulis untuk kelas Bahasa Inggris.

When Steve Jobs delivered a commencement speech at the Stanford University back in 2005, he talked about “connecting the dots”. ‘The dots’ he meant were life experiences. The Apple co-founder told how he didn’t graduate from college, but stayed as a ‘drop-in’ for some time. As a drop-in, he took calligraphy class which didn’t seem practical at all until he built the first Macintosh ten years later.  “I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do.” It’s important to believe that the dots you have acquired will somehow connect because you can only connect the dots looking backward. With that belief, you will have the confidence to follow your heart. This concept of “collecting and connecting the dots” has fascinated me since the first time I heard it until now.

Gue bukan Apple fangirl maupun Jobs fangirl. Namun, gue sangat percaya dengan konsep menghubungkan titik itu. Lebih dari Jobs menekankan bahwa kita harus percaya bahwa titik-titik itu suatu hari akan terhubung, gue percaya bahwa kita harus berusaha menghubungkannya juga. Nggak cuma menunggu dan percaya.

Jadi, anggaplah gue sudah membawa konsep itu ke ‘jenjang’ yang ‘lebih tinggi’. Muncul masalah baru: bagaimana gue bisa menghubungkan titik-titik itu? Kalau mengikuti Jobs, maka ya dipikirkannya ntar aja. Yang penting, follow your guts. Namun, bagi orang yang kadang suka kelewat hati-hati, mungkin gue akan memilih untuk “merencanakan titik mana yang akan diambil”. Nah, lho. Sebenarnya, berlawanan nggak sih dengan yang dibilang Jobs?

Gue cuma berusaha menghindari penyesalan atas titik-titik yang gue ambil. Gue takut, di akhir hidup gue nanti, gue akan menyesal karena titik-titik itu. “If only I had taken  the other dots,” misalnya. Ditambah lagi, gue juga baru mikir bahwa “hidup akan terpenuhi apabila kita tidak meninggalkan penyesalan.” Nah, gimana caranya? Ya, dengan menghubungkan titik-titik yang kita punya.

Maaf nih, agak OOT dikit. Jadi mahasiswa itu ada enak dan enggaknya. Lo punya pilihan yang tidak terbatas. Satu hal itu aja bisa dilihat dari dua sisi. Enak, karena ya lo bebas menentukan dan memilih. Enggak enak, kalau lo belum punya tujuan.

Saat ini, gue sedang dihadapkan pada begitu banyak titik yang bisa gue ambil. Titik-titik itu pun ada yang bisa membuat gue terlihat sebagai “anak jurusan gue yang sebenarnya” ada pula yang sebenarnya merupakan passion gue yang mana enggak begitu nyambung sama stereotip anak jurusan gue.

_Ih. Alline ngikutin stereotip? Tumben.
_

Iya. Tumben, kan. Biasanya gue sih masa bodo dengan apa yang orang lain lakukan. Kalau nggak menarik minat gue ya, terserah. But, it’s kind of hard not to think of it when everyone’s talking about it. Titik yang teman-teman jurusan gue ambil ini banyak manfaatnya. Ya, di luar lo bisa terlihat keren bila bisa menguasai titik ini… gue cuma takut nyesel gue gak bisa apa yang temen-temen gue bisa. Itu aja kok.

Apakah gue akan mengikuti konformitas jurusan dan menyesuaikan diri dengan stereotipnya? Atau nggak usah, ya? Berenang melawan arus aja. Santai…

Yaudah lah. Nggak ada salahnya nyobain ngambil titik itu. Toh, banyak manfaatnya.

Yang bikin gue galau adalah, seorang senior membagi ilmunya pada gue dan salah satu di antaranya adalah… harus fokus. Paling banyak tiga kegiatan at once. Sementara gue semester ini udah daftar banyak banget dan ada beberapa pula yang gue sesali namun pastinya sudah tidak bisa mundur.

Harus gimana, ya? Mengeliminasi atau tunggu sampai masa jabatannya selesai? Hmmmm….

Selain berhubungan dengan kuliah, ada pula yang berhubungan dengan hubungan inter-personal. Namun yang ini gue nggak bisa cerita apa-apa. Gue aja masih bingung. Huft. Intinya sih, gue merendahkan ekspektasi gue terhadap lo karena gue takut nyesel.

But in the end… gue tetap merasa, nyesel atau enggaknya, kita harus bisa merangkul semua titik itu untuk memenangkan hidup. Gak oke juga lah hidup dalam denial… ya gak?

Ttyl.<3