personal entry #4: kembali menulis
Tadi kubilang di ask.fm, aku akan memuat tulisanku di halaman ini dalam 10 menit.
Tadinya hampir berhasil, sampai aku menekan tombol “back” secara tidak sengaja dan hilanglah seluruh tulisanku. :)
Kali ini, aku ingin menulis tentang hal yang sudah lama mengganggu pikiranku. Semoga tidak bosan, ya. Wait. No one follows me anyway… but you, you, and you.
Begini. Aku dulu sempat menulis beberapa buku. Alhamdulillah bisa sampai dijual di toko-toko buku di seluruh Indonesia. Menyenangkan sekali. Aku jadi punya royalti dan teman pena dari seluruh nusantara. Tapi itu lima tahun lalu. Sejak masuk SMP, aku merasa berada di “dunia baru” dengan endless possibilities. Maka, perhatianku teralihkan dengan proyek sampingan @MencobaBelajar. Aku pun kehilangan waktu untuk membaca. Leave alone menulis.
Sekarang, kalau ada teman yang menyebutku “penulis”, sejujurnya aku merasa tidak nyaman. Dahulu ada yang bilang kalau sekali jadi penulis, akan seterusnya jadi penulis. Namun, apalah artinya penulis yang tidak menulis? Mungkin aku jadi terlihat merendah di hadapan orang-orang. Namun sejujurnya, aku hanya merasa malu.
Menjadi penulis bagiku kini hanya seperti pengalaman biasa. Bukan identitas. Sama derajatnya dengan “dulu aku pernah ikut lomba pidato.” Ya sudah. Ceritanya sampai di situ saja.
Kini, aku ingin kembali menulis. Dalam posisi ini, aku jadi bisa melihat kendala apa saja yang dihadapi oleh orang-orang yang baru ingin jadi penulis. Mulai dari mana? Bagaimana menumbuhkan motivasi, dan sebagainya.
Genre apa yang harus aku anut, ya? Masalahnya, aku tidak bisa menulis romance dan aku kebanyakan membaca novel-novel romance. Aku sudah pernah mencoba menulis romance yang eksplisit (seperti dalam teenlit) dan hasilnya… menjijikkan. Aku yakin kalian akan langsung membuangnya ke tempat sampah. Hahaha.
Aku selalu menulis dalam lingkup persahabatan. Ada romance, namun tersirat. Ya, alasannya karena dulu tulisanku berada di lini KKPK dan aku juga masih anak-anak :))
Sepertinya, aku harus mengembangkan bacaanku ke genre-genre lain, ya. Hahaha.
Kemudian, aku merasa terbebani akan ekspektasi pembaca sekalian. Tunggu, terbebani bukan kata yang tepat. Mungkin lebih “aku jadi kepikiran tentang opini kalian.” Soalnya, ya, seperti yang sudah aku bilang… mungkin di antara kalian pernah ada yang baca novelku. Atau setidaknya tahu kalau aku pernah menulis buku. You’d have some expectations when you read my writings, kan?
Nah, masalahnya… aku tidak yakin bahwa tulisanku masih sebagus dahulu. Ketika aku membaca tulisan-tulisanku, aku merasa iri dan bingung. Rasanya, aku bukan orang yang sama dengan yang menulis tulisan itu. Bagaimana aku dulu bisa menulis dengan alur yang mengalir dan diksi yang menarik? Apakah aku kini kehilangan kelihaianku dalam merangkai kata?
Tapi, aku sepertinya sudah menemukan jawaban atas permasalahan yang satu ini. Seorang sahabat dekat mengirimiku kutipan dari buku Austin Kleon yang berjudul “Show Your Work!”
Sepertinya aku harus melepaskan, atau setidaknya melupakan bahwa aku pernah menerbitkan buku dan segalanya akan jadi lebih mudah. Aku harus kembali menjadi amatir dan menulis for the sake of writing itself.
Atau jangan-jangan memang karena aku bukanlah aku yang dulu? Aku merasa, karena aku perlahan tumbuh dewasa, aku melihat dunia dengan cara yang berbeda. Aku jadi lebih realistis. Meskipun aku belum menemukan hubungan yang jelas, namun sepertinya menjadi realistis menyulitkanku untuk menulis fiksi. Aku butuh research mendalam mengenai tempat dan watak tokoh. Writing, for me, has never been this hard.
Jika kamu berpikir aku tidak punya ide untuk menulis, salah besar. I still get these “random scenes” (hence the name of this blog) in my head, but I have no idea how to connect them.
Kalau dipikir-pikir, kenapa ya tulisanku dulu bisa begitu mengalir? Seperti ada “hantu” yang datang padaku di malam hari yang menceritakan kisahnya padaku sehingga aku hanya menulis dan menceritakan ulang. Iya. Dulu bagiku menulis semudah itu.
Kalau aku kembali membaca tulisanku, aku akan tersenyum melihat hal-hal yang “kurang logis” dan “dibiarkan menggantung”. Misal, aku menulis tentang tokoh X yang sebenarnya tidak terlalu penting dan hanya kumunculkan sekali dalam cerita itu. Aku akan berkata, “yaelah nggak guna amat ini tokoh.” Bagus, sih. Tapi aku jadi butuh usaha dan waktu ekstra untuk menulis… yang akhirnya nggak selesai-selesai.
Capek, ya, membaca alasanku? Hahaha. Ini excuse yang terakhir, kok.
“The age of distraction” is real. Aku, kamu, generasi masa kini dikatakan hidup dalam the age of distraction. Ya, lampu LED ponselku berkedip. Ada LINE masuk. Ada notifikasi Path yang sebenarnya nggak terlalu penting. Rasanya aku ingin hidup tanpa ponsel selama sebulan….
…. tapi tanpa harus ketinggalan informasi penting seperti kelas di-cancel dan sebagainya. :( Bisa nggak?
Manusia jaman sekarang lebih terhubung satu sama lain dibandingkan sepuluh-dua puluh tahun lalu. Tidak ada istirahat. I am obliged to read and reply every single chat, as soon as possible. Ada saatnya aku ingin berteriak, “can I live?!”
Rasanya, aku ingin lari ke hutan dan belok ke pantai. Makanya, aku sudah menghilangkan beberapa aplikasi media sosial di ponselku supaya aku bisa lebih fokus terhadap apa yang aku lakukan. Bukan racun dalam tubuh aja kayanya yang harus dibuang, tapi kebiasaan-kebiasaan nggak penting sehari-hari yang mengganggu produktivitas :’‘‘)
Oke. Doakan aku! :3