personal entry #5: random ramblings
Hai. Tulisan ini diketik di kampus, tepatnya di SBAL tercinta. Barusan ada senior-senior yang sudah lulus keluar-masuk PPAA. Aku berpikir, “wah beberapa tahun lagi aku yang begitu.”
Then it hits me hard that I’ve gone this far. Untuk bisa nongkrong-nongkrong di SBAL adalah sebuah privilege. Untuk bisa belajar di gedung G (yang tanpa lift itu) lantai 4 adalah sesuatu yang langka. Tiba-tiba aku merasa tidak siap. Aku tetiba ketakutan menjadi mahasiswi.
Namun kalau dipikir lagi, kita tidak pernah siap untuk apapun, sih. Ya, setidaknya aku. Aku jadi ingat dulu ketika aku baru masuk SMA. Entah berapa puluh menit aku habiskan hanya untuk menatap tulisan “SMA” di lapangan sambil berpikir, “whoa. I’m here.” Padahal, waktu itu aku sudah kelas tiga.
Mungkin tanpa terasa, aku akan menatap kop surat tempatku bekerja nanti dengan tatapan dan perasaan yang sama.
Kamu akan tidak selalu tidak siap untuk apapun. Walaupun kamu berkata “siap”, pasti hatimu pun juga akan agak bergetar sedikit.
The world spins madly on.
Time waits for no one.
Hari apapun hanya akan datang sekali, katanya.
Kadang, aku merasa dipaksa berlari. Secara fisik, mungkin aku tidak bisa berlari jauh.
Makanya, aku selalu berusaha berlari dengan caraku sendiri.
Sebenarnya, tidak penting berlari atau tidak. Asal sampai.
Pasrah sekali ya, kedengarannya?
Kadang aku bingung. Biar hanyut saja atau aku harus berenang melawan arus?
detik ini, bagiku itu tidak penting.
Mengutip para realis, yang penting aku survive.