There's always a silver lining

A(n) journal published on

in every bad thing that happened to you.

I’ve always had trust issues: I don’t open myself to others. The reason? I just think that people come and go and I just think that it’s not always worth the hurt. Why would you share a piece of your life– your insecurities, your fears, your dreams, your life plan– to people who don’t even care? To people who stay temporarily in your life?

Saya enggan berbagi dan membuka diri dengan orang lain karena, orang-orang di sekitar saya pasti punya masalahnya sendiri. Saya merasa nggak perlu menambah-nambahkan beban hidup mereka dengan masalah saya. Cukup saya saja yang menyelesaikan semuanya sendiri.

Beberapa minggu lalu, saya sempat “marah-marah” ke seorang teman karena saya rasa dia terlalu individualis dalam suatu proyek yang seharusnya dikerjakan bersama-sama. Dia bilang kalau dia tidak suka menyusahkan orang lain, dia tidak suka bergantung pada orang lain. Lalu saya jawab, “kamu kan kerja dalam tim, ya harusnya kamu bagi-bagi tugas, dong, ke kami.” Saya kecewa karena saya tidak dianggap sebagai bagian dari tim.

Setelah beberapa saat, saya menyadari bahwa sesungguhnya saya juga seperti dia. Saya menjaga diri supaya tidak terlalu bergantung pada orang lain. Ketika orang lain bisa bercerita tentang kondisi keluarganya pada teman-teman terdekat, saya enggan untuk melakukan hal tersebut. Semua orang punya ‘perang’ yang dihadapinya masing-masing. Saya tidak mau mengganggu ‘perang’ mereka. Lebih baik saya mengurusi perang saya sendiri saja.

Saya merasa lelah. Tapi saya tidak bisa mengatakannya pada ibu saya (yang sudah cukup pusing mengurusi ayah saya), kakak-kakak saya (yang kini punya kehidupan masing-masing), serta teman-teman saya yang saya tau punya masalah yang dihadapinya masing-masing. Pun akhirnya saya mengeluh pada mereka, pada akhirnya saya selalu merasa bersalah. “Maaf, ya, jika saya mengeluh terus,” batin saya. “Maaf kamu terpaksa menanggapi keluhan saya yang sebenarnya tidak penting.”

Kemudian saya sadar kalau ternyata saya selalu punya ‘dinding’ di antara orang lain. Dinding itu dibangun dengan berbagai macam alasan, tergantung siapa orangnya. Ada yang saya bangun karena saya belum cukup percaya pada orang tersebut. Ada yang saya bangun untuk sekadar pencitraan. Ada yang saya bangun karena keengganan tadi. Ada pula yang saya dirikan sebagai mekanisme pertahanan diri.

Sebagai mekanisme pertahanan diri, dinding tersebut menahan saya untuk menunjukkan siapa saya sebenarnya kepada orang lain. Karena saya takut. Takut kalau mereka tidak suka saya, takut kalau saya bukan seperti apa yang mereka harapkan, takut kalau saya memang tidak cukup baik. Pun akhirnya mereka tetap bertahan sebagai teman saya selama bertahun-tahun, saya masih punya ketakutan. Ketakutan kalau mereka tidak benar-benar mendengarkan saya. Takut kalau sebenarnya mereka menanggapi celotehan saya karena… mereka orang baik dan menanggapi saya hanya bagian dari gelagat baik mereka.

Mungkin ini terkait ekspektasi yang saya miliki terhadap orang-orang terdekat saya. When some people mean so much to you, you start to expect things. You expect them to always be there for you, you expect them to treat you the way you treat them, you expect them to care about you the way you care about them. Tapi saya tahu berekspektasi tidak ada gunanya.

Akhirnya saya menahan semuanya sendiri. Dan saat ini segala ketakutan saya– bagai meluap karena memang sudah waktunya. Saya kini tahu kalau saya butuh bantuan. Saya kini tahu kalau saya perlu menceritakan hal-hal ini pada seseorang yang sekiranya peduli, tapi tidak terlihat oleh saya karena dinding yang saya bangun.

Mengacu pada judul, silver lining yang saya temukan kali ini adalah… ternyata ada yang peduli. Ternyata ada yang mendengarkan. Ternyata ada yang menanggapi saya tanpa menganggap enteng apa yang saya rasakan. Mereka selalu ada di sekitar saya, tapi selalu tertutup oleh dinding yang saya bangun.

Mungkin ini saatnya saya perlahan menanggalkan bata-bata itu. Mungkin ini saatnya saya mencoba percaya dan tidak takut menunjukkan kerapuhan saya. Simply because everyone  has their own vulnerability. Simply because looking ‘strong’ all the time only hurts yourself. Simply because you make it impossible to love you, as the way you love others.