Gangneung
Kali ini, aku akan bercerita soal sebuah kota yang kukunjungi sekejap saja namun berhasil meninggalkan kesan mendalam. Merindukannya kadang bagai merindukan seseorang yang merebut hatimu dalam semalam. Kau jatuh hati padanya dengan mengetahui betul bahwa ketika matahari terbit, kau harus berpisah dengannya. Rasanya seperti mimpi, dan kau tetap saja jatuh cinta pada mimpi tersebut.
Gangneung 강릉 adalah sebuah kota di bagian timur Korea yang belakangan ini sering disebut karena menjadi tuan rumah dari Olimpiade Musim Dingin 2018. Awalnya, Gangneung hanya menjadi tempat persinggahan dari perjalanan yang lebih panjang. Busan sebenarnya adalah tujuan utamaku. Namun, karena keterbatasan waktu dan dana, akhirnya aku memutuskan untuk hanya mengunjungi Gangneung.
Sepertinya ada banyak alasan mengapa aku pergi ke Gangneung. Salah satu alasannya karena aku ingin mencoba perjalanan kereta jarak jauh sendirian. Terakhir kali aku naik kereta sepertinya ke Bandung, saat aku masih duduk di bangku SD. Aku juga terpengaruh oleh foto-foto di buku Recto Verso tulisan Dee Lestari yang diambil dari dalam kereta, menunjukkan sawah yang membentang.
Setelah melakukan penelusuran, aku mengetahui bahwa setiap tahun baru, orang-orang dari segala penjuru berkumpul di Gangneung untuk melihat matahari terbit pertama kali di awal tahun. Mereka biasanya naik kereta malam yang berangkat dari Seoul dan sampai tepat pada waktunya untuk melihat matahari terbit di stasiun Jeongdongjin 정동진.
Ketika aku bertolak dari Seoul ke Gangneung, Korea sudah mulai menyambut musim panas. Udaranya mendukung untukku melakukan perjalanan dengan nyaman, tidak terlalu dingin seperti di bulan Maret atau April, tapi tidak terlalu panas seperti di bulan Juli atau Agustus.
Aku naik kereta malam pukul 11 malam dari Seoul Station 서울역. Rasanya agak cukup jauh dari asramaku di daerah Seodaemun. Aku ingat butuh waktu hampir satu jam untuk sampai ke sana menggunakan bus. Dari Seoul sampai ke Jeongdongjin sendiri membutuhkan waktu sekitar 6 jam menggunakan kereta. Sebenarnya, bisa dicapai dengan lebih cepat dengan bus. Namun, seperti yang sudah kukatakan, aku rindu sensasi naik kereta.
[googlemaps https://www.google.com/maps/embed?pb=!1m28!1m12!1m3!1d808596.4601523551!2d127.44067577729724!3d37.65907895828048!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!4m13!3e6!4m5!1s0x357ca266869b6f27%3A0x2ff1ff2e4fb33dcb!2zU2VvdWwgU3RhdGlvbiwgQ2hlb25ncGEtcm8sIERvbmdqYS1kb25nLCBZb25nc2FuLWd1LCDshJzsmrjtirnrs4Tsi5wgU291dGggS29yZWE!3m2!1d37.553606699999996!2d126.9696195!4m5!1s0x3561c32bc7fb0ce5%3A0x9bfec84e8c73a21c!2sJeongdongjin+Station%2C+Gangdong-myeon%2C+Gangneung-si!3m2!1d37.691459!2d129.032672!5e0!3m2!1sen!2sus!4v1520302356286&w=600&h=450\]Aku duduk di ruang tunggu sendirian dengan perasaan bercampur aduk: bosan sekaligus tak sabar. Di area tunggu, terdapat beberapa minimarket dan toko oleh-oleh lainnya yang sudah tutup karena waktu itu sudah cukup larut. Aku sesekali beranjak dari tempat dudukku untuk ikut segerombol ajussi (panggilan untuk pria paruh baya) yang berkerumun di depan televisi untuk menyaksikan drama televisi yang tengah tayang. Tidak banyak yang bisa dilakukan di Seoul Station bila sudah larut malam.
Ketika sudah bosan berdiri untuk menonton televisi, aku pun duduk kembali. Aku tak bisa terlalu banyak menggunakan ponselku, karena saat itu baterenya cepat habis (baru sadar kalau bocor ketika sampai di Jakarta) dan aku menghemat daya di powerbank-ku untuk esok hari. Maka, aku memilih untuk duduk dan mengobservasi orang-orang di sekitarku.
Seorang perempuan kemudian datang menghampiriku yang mungkin terlihat bosan dan lelah. Ia tersenyum dan duduk di sebelahku. Aku lupa apakah ia menyapaku dengan bahasa Inggris atau Korea, tapi aku ingat menjawab dengan bahasa Korea sebisaku. Parasnya cantik dan tutur katanya lembut. Usianya mungkin akhir 30-an atau awal 40-an. Kami berbicara soal diriku. Tidak ada pikiran aneh yang terlintas. Sebagai orang asing, diajak berbincang oleh orang lokal merupakan kesempatan berharga. Saat itu aku bersyukur karena bisa berlatih menggunakan pola kalimat yang aku pelajari selama di kelas.
Sampai suatu ketika ia memintaku untuk membaca sesuatu.
Aku mengangkat alisku, pura-pura tak lancar membaca hangeul. Aku berlaku demikian karena ia inginku membaca beberapa ayat dari Al-Kitab di ponselnya.
Ya, aku memang sering mendengar kisah bahwa banyak sekali misionaris yang bekeliaran di tempat umum. Bukan hanya Kristen, tapi dari berbagai agama lain hingga beberapa yang dianggap “sesat” atau cult. Aku pun akhirnya membaca dengan (gaya) terbata-bata, dan ketika ia pergi langsung membaca kembali dua kalimat syahadat. :__)
Akhirnya, kereta mulai bergerak dari Seoul Station tepat pukul 11 malam. Saat itu tidak ada yang duduk di sebelahku sehingga aku bisa tidur gaya meringkuk seperti bayi dalam kandungan. Sebelum tidur, aku berusaha memperhatikan apapun yang ada di luar jendelaku, melihat orang turun dan naik keretaku. Karena sudah larut malam, tak ada banyak yang bisa dilihat dari balik jendela. Aku pun menyusun playlist di Spotify untuk menemaniku menghabiskan malam. Judulnya Melancholic Train Ride.
https://open.spotify.com/embed?uri=spotify:user:hanifalleya:playlist:6YpswuSHEV8w90oUa2Ox7o&theme=whiteAku terbangun sekitar pukul lima dan aku masih belum bisa melihat apa-apa dari balik jendela. Barulah pada sekitar pukul setengah enam, aku mulai melihat ada semburat keunguan di langit. Sayangnya, kursi yang kudapat menghadap ke Barat. Aku pun tidak bisa menikmati langit pagi itu sepenuhnya. But it was breathaking.
Stasiun Jeongdongjin merupakan stasiun kereta yang terletak tepat dipinggir pantai. Menurut Wikipedia, stasiun ini adalah stasiun yang paling dekat dengan pantai, baik di Korea maupun di dunia. Namun, untuk bisa sampai ke bibir pantai, aku harus keluar dari area stasiun dan masuk dari pintu umum.
Saat itu, aku merasa hangat dan bersyukur bisa menyaksikan sang surya beranjak naik. Rasanya, saat itu semua hal yang membebaniku, semua hal yang membuatku cemas hilang untuk sementara. Mereka semua jadi kerdil apabila dibandingkan dengan laut yang tak berujung.
Duduk di bibir pantai Jeongdongjin hari itu, aku merasa utuh dan dekat dengan-Nya.
Aku menghabiskan setidaknya dua jam untuk menyusuri pantai dan mengobrol dengan diriku sendiri. Semakin siang, semakin tak ada orang. Hanya aku dan suara ombak.
Entah berapa kali aku bertanya pada diriku, “jadi maumu apa lin?”
Tak ada yang menjawab. Aku pun tak tahu apa yang kumau.
Sekitar pukul sembilan, aku mengunjungi museum kecil yang terletak tak jauh dari pantai. Museum itu memiliki koleksi tentang apapun yang berhubungan dengan waktu. Randomly, di sana ada gamelan. Entah apa hubungannya, tapi aku senang melihatnya. Seperti bertemu teman sekampung.
Shuttle bus dari Jeongdongjin menuju Gangneung tidak tersedia setiap saat. Sebelum jadwal keberangkatan terdekat, aku masih memiliki sisa waktu sekitar satu setengah jam. Karena seperti tidak ada tempat makan yang buka saat itu, aku memutuskan untuk mencari makan di warung depan stasiun.
Seorang ajumma (wanita paruh baya) menyambutku. Di dinding belakangnya, tertumpuk puluhan bungkus mie instan berbagai merk hingga menjulang ke atas. Ajumma dan aku dipisahkan oleh meja yang berisi berbagai perlatan masak-memasak dan makanan. Ada berbagai macam gorengan, oden, teko emas, gelas-gelas kosong, dan televisi kecil yang menayangkan seri drama pagi.
Perjalanan dari Jeongdongjin ke Gangneung membutuhkan waktu sekitar 40 menit dengan disupiri pengemudi yang sepertinya dapat pelatihan dari Fast and Furious. Aku memilih untuk tidur saja dibanding harus menahan rasa mual akibat cara mengemudinya.
Akhirnya, Gangneung
Jujur, sebagai manusia kota, Gangneung awalnya terlihat membosankan. Saat memijakkan kaki di pemberhentian, aku menyapu pandanganku ke sekitar seraya berpikir, “ngapain ya gue di sini?” Sejauh mata memandang, tidak ada gedung bertingkat. Lalu lintas pun tak seramai di Jakarta maupun Seoul.
Gangneung sedikit mengingatkanku pada Yogyakarta. Ia tak terlalu ramai seperti Bandung kala liburan tiba, tapi entah mengapa terasa bersahaja dan ramah pejalan kaki. Gedung bertingkat yang ada tak penghuni kotanya inferior, seperti Jakarta. (Apa aku yang terlalu lemah hingga merasa inferior dibanding benda mati?)
Di genggamanku sudah ada peta menuju pengingapan yang aku cetak sebelum berangkat. Tidak ada kartu SIM, berarti tidak ada internet. Berbekal pelajaran terkait arah dan lokasi yang telah dipelajari di kelas, aku menghampiri dua orang ajumma yang lewat di hadapanku.
Ketika mereka melihatku, mereka terlihat panik dan seakan ingin menyuruhku pergi. Entah karena penampilanku atau alasan lain. Namun, raut wajah mereka berubah ketika aku mulai berbicara dalam bahasa Korea. Aku sedikit mengerti apa yang mereka sampaikan, tapi aku hanya mengikuti gerakan tangan mereka yang menyuruhku menyeberangi jalan. Sesampainya di seberang, aku bertanya pada seorang lelaki tua yang tengah menjaga toko peralatan rumah tangga. Ia menyuruhku pergi ke arah yang berbeda. Aku pun menurutinya.
Butuh sekitar setengah jam bagiku berjalan kaki untuk sampai ke tempat penginapan yang telah kupesan melalui Airbnb. Ia terletak di antara rumah-rumah penduduk. Hal yang membedakannya dengan rumah lain adalah pintu kuningnya yang selalu terbuka, seperti mengundang masuk.
Setelah meletakkan tas, aku berbenah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan untuk melihat-lihat Gangneung. Ji Na, anak perempuan sang pemilik penginapan, memberikanku peta beserta nomor bus yang bisa kunaiki apabila ingin ke pantai. Aku singgah di beberapa tempat sejarah dan museum sebelum akhirnya ke pantai. Museum itu agak menyeramkan dan aku ingat agak menyesal membayar tiket masuk yang cukup mahal hanya untuk merasa ketakutan di dalamnya.
Museum itu, Chamsori Gramophone and Edison Science Museum, berisi koleksi pribadi pemiliknya. Entah berapa banyak jumlah gramofon dan segala yang berhubungan dengan Thomas Alfa Edison. Oh, museum itu juga memiliki koleksi yang berkaitan dengan film, mulai dari berbagai jenis kamera yang digunakan untuk membuat film, hingga manekin tiruan aktris-aktris Hollywood yang… menyeramkan. Andai saja ada lebih banyak pengunjung di sana, tentu aku tidak ingin cepat-cepat keluar.
Sesampainya di pantai, aku dihampiri oleh beberapa orang berpakaian rapi yang membawa selebaran. Setelah kubaca brosur yang mereka bawa, ternyata mereka adalah Saksi-Saksi Yehuwa (Jehovah’s Witness) yang tengah menyebarkan kepercayaannya. Sepertinya, aku pernah melihat mereka di jembatan penyeberangan orang depan Margo atau di area Stasiun UI. Anyway, aku berbincang dengan mereka selama beberapa saat dan mereka tampak senang aku mau mendengarkan.
Mungkin, bagi orang-orang yang menyebarkan agama seperti mereka dan ajumma di Seoul Station, lebih mudah mendekati aku yang terlihat beragama (dari atribut yang kukenakan, jilbab) dibanding harus mendekati orang-orang yang pada dasarnya tidak percaya Tuhan sama sekali. Hipotesisku, sih.
Pantai yang kudatangi di Gangneung bernama Gyeongpo. Sebenarnya, aku ingin mengunjungi pantai yang terkenal gegara serial Goblin. Namun, ternyata letaknya cukup jauh dan saat itu sudah tengah hari.
Apa yang kulakukan di sana?
Menyusuri pantai dan merenung (lagi). Rasanya sudah lama aku tidak mengosongkan pikiran seperti saat itu. Makanya, jika sedang banyak pikiran, secara mental aku akan selalu kembali ke pantai itu pada hari itu. Ini pula sebabnya Gangneung, walau tak sepenuhnya kujelajahi, akan selalu punya tempat spesial dalam hatiku. It’s like my own secret, safe place.
Aku duduk berjam-jam, di atas pasir maupun di atas ayunan yang tersedia di sepanjang pantai. Kutengok lagi perjalanan hidupku ke belakang. Kuberkeluh kesah pada lautan yang membentang di hadapanku, berharap didengar oleh-Nya. I gave myself plenty of hugs and pat on the back. I had been too hard on myself.
Ya, diriku sendiri setuju bahwa masih banyak yang harus diperbaiki dari caraku hidup dan membuat keputusan dalam hidup. Namun, ada hal-hal yang cukup membuatku bangga pada diriku sendiri, menyadari sejauh apa aku telah tumbuh dan berhasil menghadapi kesulitan-kesulitan yang kualami sebagai pelajaran.
Berbulan-bulan kemudian, ketika menonton drama Because This is My First Life, aku bisa mengerti ketika Lee Min Ki berkata, “sekarang aku tahu mengapa orang-orang pergi ke pantai ketika merasa frustasi. Kau bisa menghadapi hatimu di sini.”
Later, when I find someone with whom I can share the silence comfortably, I would take him to this beach.
Aku pulang setelah matahari terbenam. Tadinya aku menunggu sunset, tapi nampaknya di sisi timur tidak bisa terlihat sebagaimana aku menyaksikan sunrise di pagi itu. Ketika aku menyadari bahwa tak ada sunset di timur, langit sudah terlanjur gelap dan aku tak bisa kemana-mana lagi.
Aku pulang keesokan harinya, menaiki bus terpagi untuk mengejar kereta kembali ke Seoul. Perjalanan pulang lebih membosankan dibandingkan perjalanan menuju Jeongdongjin karena rasanya entah berapa kali aku terbangun dari tidur, aku belum juga sampai di Seoul. Selain itu, aku tak dapat kursi jendela sehingga rasanya bosaaan sekali.
Sepanjang perjalanan, aku bisa melihat bentang alam Korea yang benar berbukit-bukit. Di satu buku yang kubaca untuk kelas International Politics of Korean Peninsula, katanya apabila permukaan Korea diratakan, maka luasnya akan menyamai daratan Tiongkok. Bisa terbayang, tidak, seberapa berbukit-bukitnya Korea?
Apabila dibuat rangkumannya, perjalanan ini adalah me time yang haqiqi. Mungkin, aku bukan jatuh cinta pada Gangneung sebagai sebuah tempat. Bicara soal pantai, banyak pantai yang jauh lebih indah di Indonesia. Namun, Gangneung spesial bagiku karena ia sebagai saksi perjalananku dan menjadi bagian dari proses pendewasaanku.
Hari itu adalah salah satu hari di mana aku benar-benar mencoba “berada” secara penuh. Kubuka mataku, telingaku, dan indraku yang lain untuk tenggelam dalam suasana asing itu.
Dan akhirnya… aku mulai merasa nyaman dengan diriku sendiri.