Kapan, sih, kita pernah siap akan apapun?
Waktu aku kelas satu SMA, aku ingat berjalan di lorong sekolahku sambil menatap tulisan nama sekolahku di lantai lapangan. Tidak ada siapapun kecuali aku di lorong itu. Lapangan pun kosong, tak ada kelas yang memakainya untuk pelajaran olahraga.
Sewaktu SMA, aku sering tiba-tiba tersadar akan sekitarku. Epiphany mungkin kata yang paling dekat untuk menggambarkannya, walau tidak sempurna. Aku pernah membicarakan hal ini di “podcast” jadi-jadian yang aku pos di Soundcloud, tapi sudah kuhapus. Malu. Hahaha.
Di podcast itu, aku bilang bahwa ketika melakukan sesuatu, misalnya mengobrol asik bersama teman-teman, aku tiba-tiba terdiam dan mempertanyakan “di mana aku?” “siapa orang-orang ini?” “kenapa aku tertawa?” “kenapa aku di sini?” Momen seperti itu biasanya membuatku bersyukur karena aku sadar aku dikelilingi teman-teman yang baik dan hidupku sesuai dengan yang apa aku rencanakan. Semakin dewasa, aku sudah jarang mendapatkan momen ‘kesadaran’ seperti itu. Mungkin karena kesadaran diriku jauh lebih tinggi saat ini dibanding ketika SMA dulu.
Momen di lorong itu juga merupakan salah satu ‘momen’ kesadaran yang kualami. Hari itu, aku tersadar bahwa aku, tiba-tiba, sudah masuk SMA. Seakan-akan, aku baru saja sampai di masa itu setelah menjelajahi waktu dari zaman SMP. Melihat tulisan “SMA” di lapangan membuatku tiba-tiba merasa takut. Aku berpikir, “aduh, aku belum siap.”
But there I was, standing in the hallway, wearing my high school uniform, on my way to the toilet.
Itulah hari di mana aku akhirnya menyadari bahwa kita takkan pernah siap untuk apapun.
Hal itu juga terjadi ketika aku menjalani hari pertama semester ketiga kuliahku. Aku bukan lagi mahasiswi baru yang sedang menjadi peserta acara orientasi. Mata kuliahku yang kuambil hampir semuanya mata kuliah jurusan. Jurusanku punya stereotip salah satu program studi sosial tersulit untuk dimasuki karena passing grade-nya yang tinggi. Kelas pengantar ilmu jurusanku tidak begitu membuka mata, jauh dari ekspektasiku. Salahnya ada padaku, sih. Nampaknya teman-temanku yang lain merasa terbuka matanya setelah lulus kuliah pengantar itu.
Hari pertamaku penuh kata-kata asing yang di satu sisi membuatku penasaran, tapi di sisi lain membuatku panik. Melihat kata ‘universitas’ di mana-mana membuatku mengernyitkan dahi.
“Oh, no. Am I ready for college?”
Jika kupikirkan sekarang, kenapa aku mendapatkan momen itu ketika aku sudah menjalaninya? Aneh. Apakah saat itu aku tersadar bahwa hari itu adalah mulainya hal-hal riil dalam hidupku? Like, the real deal?
Sejak hari di semester ketiga itu, aku memutuskan untuk mencoba hal-hal baru dengan anggapan,“aku tidak akan pernah siap untuk apapun. Lantas, kenapa tidak mulai saja sekarang?”
Hal-hal baru itu salah satunya kepanitiaan tingkat kampus dan menjadi peserta dalam sebuah konferensi simulasi sidang PBB. Sebagai anak HI, ada beberapa stereotip yang melekat pada kami. Umumnya, anak HI ideal adalah seseorang yang rajin ikut MUN, percaya diri, ekstrovert, cerdas, serta jago berbicara bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya. Pada semester ketiga itu lah akhirnya aku menyadari bahwa aku bukan tipikal anak HI yang mereka maksud, dan dengan itulah hingga kini aku memperkenalkan diriku.
“Wah, anak HI ya? Suka ikut MUN, dong? Jago bahasa Inggris dong? Jalan-jalan terus, ya, ke luar negeri?”
“Oh, gue bukan anak HI yang kayak gitu (merujuk pada stereotip).”
Namun di semester tiga itu, aku masih menjajaki segala kemungkinan yang bisa kujalani di masa kuliahku. Aku tahu kalau aku bukan tipe anak yang suka MUN seperti pada umumnya, tapi tidak ada salahnya kan mencoba? Salah satu teman dekatku adalah pegiat MUN dan ia terus mendesakku untuk setidaknya sekali mencoba menjadi delegasi.
Daaan… aku tidak menyukai pengalaman itu. Dari tiga hari konferensi, aku hanya datang di hari pertama dan aku hampir tertidur ketika perdebatan sedang menghangat. Padahal aku duduk di barisan kedua. Sang pemimpin sidang pasti bisa melihat wajah kantukku dengan jelas.
Maka dari itu, aku mencoba untuk ikut dalam kepanitiaan MUN di kampus. Sebagai orang belakang layar, bukan peserta. Umumnya, dalam suatu kepanitiaan, aku mendaftarkan diri sebagai desainer grafis. Namun kali itu, aku mendaftarkan diri sebagai staf logistik. Alasannya karena bosan di depan laptop. Aku pun jadi satu-satunya staf perempuan di antara teman-teman lelakiku. Mulai dari mengurusi peminjaman Balai Kota DKI, sampai bolak-balik satu ruangan ke ruangan lain, hingga jadi pages, aku merasakan semuanya.
Ternyata jadi pengamat lebih cocok untukku dibanding jadi peserta.
Hal lain yang aku lakukan adalah mendaftar program pertukaran mahasiswa di semester enam. Aku memang sudah merencanakannya sejak semester pertama, tapi aku tidak menaruh ekspektasi yang tinggi untuk bisa berangkat. Ya, walau beberapa di antara temanku tahu keinginan dan urgensi keberangkatanku sangat tinggi, tapi aku berusaha untuk tidak berekspektasi berlebihan.
Semua kujalani dengan mindset, “you’ll never gonna go if you don’t go now.” (Btw aku suka banget lagu itu. Selalu membuatku ingin berlari!)
Sebagai orang yang sangat idealis, aku selalu berusaha untuk mempersiapkan diriku akan segala sesuatu. Namun, semakin dewasa aku menyadari bahwa ada banyak hal dalam hidup ini yang terjadi tanpa menunggu kesiapanmu. Manusia bisa saja mempersiapkan diri sebisanya, tapi hidup takkan pernah menunggu. It’s yes, or no. It’s now, or probably never. Mungkin bekerja dan menikah juga beberapa hal di antaranya.
Entahlah. Marriage life is complicated. I’ve been observing some marriages around me but I’m not in the place to comment on them. I’ve never been in their shoes.
It’s been a quite long ramblings.
I’m signing out.