Bahasa Cinta
Katanya, orang-orang dengan tipe kepribadian INFP gemar sekali memperbaiki diri. Kalau dipikir-pikir, aku pun demikian. Aku senantiasa mencari cara terbaik untuk melakukan semua hal, bahkan untuk hal-hal yang remeh-temeh. Misalnya, suatu hari aku harus membuat banyak sertifikat dan kartu peserta untuk sebuah acara. Memikirkan jumlah peserta yang mendaftar acara tersebut, aku pun berpikir bahwa tidak mungkin aku mengisi satu per satu kolom nama dan asal universitas peserta secara manual. Aku tahu cara melakukannya di Ms. Word, tapi di Photoshop? Lalu aku berpikir, “sekarang abad 21, kan? Nggak mungkin, lah, nggak ada cara otomatis untuk mengerjakan kerjaan seperti itu.” Akhirnya setelah googling sedikit, akhirnya aku menemukan cara untuk melakukannya secara otomatis di Photoshop dengan data yang dipasok dari dokumen Excel. Ribuan menit milikku dan para staf pun terselamatkan dari mengerjakan sesuatu yang bisa dikerjakan komputer.
Anyway, aku pun melakukan ini ketika berada dalam hubungan yang kuceritakan tempo hari. Hubungan tersebut adalah hubungan romantis pertamaku dan aku jadi tergerak untuk berusaha sebaik mungkin. Orang itu, despite all, penting untukku. Pernah, kan, merasakan rasanya ingin melakukan yang terbaik untuk seseorang? Dalam pengalamanku yang cukup singkat, hal itu salah satunya terwujud dengan googling tentang apa yang aku rasakan dan yang mungkin ia rasakan. I had never been in a relationship before, so I’m clueless. Setidaknya yang bisa aku lakukan adalah bertanya ke Paman Google, kan?
Dari hasil googling itu, aku menemukan suatu konsep menarik yang menurutku tidak hanya dapat diterapkan dalam hubungan romantis, namun dalam semua hubungan interpersonal seperti pertemanan maupun keluarga. Konsep ini penting, tapi entah mengapa aku tidak pernah mendengar ini sebelumnya. Konsep yang akan aku ceritakan hari ini adalah bahasa cinta (love language).
Konsep bahasa cinta ini dicetuskan oleh Gary Chapman, seorang konselor hubungan asal AS. Menurut Chapman, sebagaimana sebuah bahasa memiliki dialek yang berbeda-beda, bahasa emosional dalam hubungan interpersonal (khususnya percintaan) pun banyak jenisnya. Ada lima cara bagaimana seseseorang menyampaikan afeksinya:
-
Melalui kata-kata terucap/lisan berbentuk pujian atau apresiasi (Words of Affirmation), misalnya dengan “baju itu cocok banget, deh, dipakai kamu” atau “makasih banget udah mau dengerin aku cerita.”
-
Melalui tindakan (Acts of Service). Tindakan yang dilakukan tidaklah harus selalu grande, yang penting ditujukan untuk orang tersebut. Mengutip Chapman:
By acts of service, I mean doing things you know your spouse would like you to do. You seek to please her by serving her, to express your love for her by doing things for her. Such actions as cooking a meal, setting a table, washing dishes, vacuuming, cleaning a commode, getting hairs out of the sink, removing the white spots from the mirror, getting bugs off the windshield, taking out the garbage, changing the baby’s diaper, painting a bedroom… They require thought, planning, time, effort, and energy. If done with a positive spirit, they are indeed expressions of love.
-
Melalui hadiah (****Receiving Gifts). Mengutip tulisan Chapman:
A gift is something you can hold in your hand and say, “Look, he was thinking of me,” or, “She remembered me.” You must be thinking of someone to give him a gift. The gift itself is a symbol of that thought. It doesn’t matter whether it costs money. What is important is that you thought of him. And it is not the thought implanted only in the mind that counts, but the thought expressed in actually securing the gift and giving it as the expression of love.
-
Quality Time. Kata Chapman di bukunya, quality time bukan dengan sekadar menghabiskan waktu bersama, tapi benar-benar fokus terhadap pasangan/teman/keluarga kita.
-
Physical Touch, yakni melalui sentuhan fisik. Punya teman yang tiba-tiba suka memeluk atau menepuk-nepuk bahumu? Mungkin baginya afeksi tersalurkan paling baik melalui sentuhan.
Seseorang memiliki primary dan secondary love language. Kedua bahasa tersebut memperlihatkan bagaimana seseorang menyampaikan afeksinya, dan juga bagaimana ia lebih senang menerima afeksi dari orang lain. Nah, menurutku, hal ini penting diketahui oleh seseorang. Sebab, dalam hubungan interpersonal, sering kali kita tidak merasa dipahami atau diperhatikan. Mungkin saja, masalahnya terletak pada perbedaan bahasa yang kita dan orang lain miliki. Bisa jadi seperti aku berbicara bahasa Indonesia pada orang Korea yang nggak bisa berbahasa Indonesia. Nggak nyambung dan komunikasi pun tak terjadi.
Kamu bisa mengetahui apa bahasa cintamu dengan mengikuti kuis yang dibuat Chapman di situsnya http://www.5lovelanguages.com/. Aku sudah mencobanya, dan hasilnya lumayan akurat, sih. Ini hasil tesku:
- Words of Affirmation (9)
- Quality Time (8)
- Acts of Service (6)
- Receiving Gifts (5)
- Physical Touch (2)
Aku memang suka menyampaikan apa yang aku rasakan lewat kata-kata, terutama tulisan. Begitu pula soal afeksi. Kalau aku sudah mulai menulis surat untukmu, tandanya aku peduli sekali padamu. Soal pujian, sepertinya aku juga tidak sering melontarkan pujian kepada banyak orang. Aku memuji apabila memang ada yang patut dipuji atau memang kukagumi. Jadi, kalau kamu mendapat pujian dariku, tandanya aku bukan asal bicara saja. ;)
Aku juga sangat menghargai quality time, baik dengan diri sendiri maupun bersama orang-orang terdekat. Makanya, aku sangat menghargai momen-momen berinteraksi langsung dengan orang lain. Sebagai orang yang cenderung introvert, aku menghindari acara sosial yang dihadiri banyak orang. Namun aku senang menghabiskan waktu bersama teman-teman terdekat dan keluargaku dalam suasana yang privat dan santai.
Kemudian, yang jadi tantangan adalah menebak-nebak bahasa cinta yang dimiliki orang-orang di sekitarmu. Ya, nggak?
Konsep yang diberikan Chapman sepertinya merupakan sebuah usaha teoretisasi. Seperti pendekatan positivis pada umumnya, akan ada banyak hal yang tereduksi dari kategorisasi di atas. Pengalaman dan cara manusia berinteraksi tentu lebih kaya dan tidak dapat dijelaskan dengan cara sederhana seperti itu. Namun, menurutku nggak ada salahnya untuk menjadikan konsep Chapman menjadi pegangan awal untuk lebih memahami orang-orang di sekitarmu. :)
So, what’s your love language?