Pesan Pendek

A(n) essay published on

Di hari keberangkatanku ke Korea, teman-teman terdekatku datang ke bandara untuk menyampaikan selamat tinggal. Mereka datang dan memberiku hadiah berupa scrapbook berisi foto-fotoku, sebutir vitamin, satu sachet Adem Sari yang bungkusnya sekarang sudah menggelembung, dan yang paling penting adalah pesan-pesan dari teman-teman sejurusanku. Ditulis tangan. Aku senang sekali menerima hadiah itu. It had been awhile since I received anything hand-made and handwritten. Belum lagi saat itu perkuliahan di kampus sudah dimulai dan aku yakin teman-temanku sudah disibukkan oleh tugas-tugas kuliah. (Terima kasih, ya <3)

Semua pesan di buku itu membuatku tersenyum dan terharu. Namun, ada salah satu yang membuatku tertegun. Ketika pesan lain berisi doa-doa dan harapan baik untukku selama pergi selama satu semester, sebuah pesan dari seorang teman tertulis bagai dikirim alam semesta. Langsung menusuk dan meninggalkan bekas mendalam.

Pesan itu ditulis seorang temanku, Nabilla. Ia menulis,

Dear Alline,
Do not panic if life moves in a pace you can’t comprehend. It is your time, and there’s nothing wrong with that. And more importantly, there’s nothing wrong with you. Take a deep breath, you’ll get there in time.

Nabilla adalah tipikal anak keren FISIP yang bisa kamu temukan mengobrol tentang topik-topik berat di Takor (kantin FISIP), di bawah cahaya lampu yang terkadang agak remang-remang. Entah kenapa, it meant so much coming from her. Mungkin, ujarannya itu juga refleksi dari apa yang ia alami.

Dua tahun yang lalu mungkin bisa dikatakan titik terendah dalam hidupku. Entah karena beban kuliah yang kurasa berat, urusan kepanitiaan dan organisasi yang terlambat kusadari berada di luar kapasitasku, masalah keluarga, atau karena diriku yang kacau. Mungkin kombinasi keempatnya.

Dua tahun lalu adalah titik puncak dari sebuah proses yang berjalan pelan selama bertahun-tahun. The process of decreasing self-esteem. I was being too harsh on myself. Aku sadar akan hal itu, tapi aku tak kuasa menghentikannya. Mulanya hanya suara-suara pelan dalam kepalaku yang muncul sejak SMA, kemudian diperparah dengan kondisi lingkunganku berada.

Sulit menjadi orang yang terlalu banyak berpikir tentang ketidakpastian masa depan. Aku terbiasa membuat skenario terburuk dari segala kejadian. Di satu sisi, hal itu telah menyelamatkanku beberapa kali ketika memang benar terjadi. Namun, aku jadi terbiasa berpikir negatif tentang segala sesuatu. No fun.

Kulihat teman-temanku yang menorehkan prestasi sangat gemilang, bahkan di tahun awal kuliah. Aku merasa bahwa aku bisa melakukan lebih banyak hal, tapi aku tak bergerak kemana-mana. I thought I was less of a person.

Aku terbiasa menyalahkan diriku dalam segala situasi yang bahkan tidak dapat kukendalikan. Jalanan macet? Seharusnya aku bisa berangkat lebih pagi. Tiba-tiba hujan? Salah sendiri nggak bawa payung. Cowok yang kusuka nggak membalas perasaanku? Ya soalnya kamu gitu-gitu aja, kurang menarik. Kenapa teman SMA-mu mencibirmu setiap kamu lewat? I don’t know. Maybe I was being a b***?

Kalau dilihat ke belakang, bagaimana aku berbicara pada diriku sendiri sungguh destruktif dan memperparah keadaan. Kata seseorang padaku, “kamu membingungkan. Entah, aku selalu mikir ini permainan mindset kamu aja.”

Selain itu, sampai hari ini, aku masih belum tahu apa yang akan kulakukan selepas kuliah. Mungkin karena itu aku merasa baik-baik saja mengetahui bahwa aku harus lulus agak terlambat. “Tidak masalah, aku pun belum tahu apa yang akan aku lakukan setelah lulus,” pikirku. Aku kira, dan aku masih mengira, bahwa seseorang seharusnya tahu apa yang akan ia lakukan dalam lima tahun ke depan. Bukankah itu yang sering ditanyakan dalam wawancara kerja?

Entahlah. Haruskah aku memiliki visi lima tahun ke depan? Atau haruskah aku menjalani hidup seperti air?

Dengan segala hal yang kulalui saat itu, aku memutuskan untuk mencoba peruntungan mendaftar pertukaran mahasiswa ke Korea. Salah satu alasanku memutuskan pergi ke Korea adalah untuk melarikan diri dari realita yang ada. Walaupun sebentar saja. Aku juga merasa perlu memikirkan ulang tujuan hidupku dan apa yang ingin kuraih dalam hidup. Ya, manusia memang hanya bisa berencana, tapi sisanya tetap Tuhan yang menentukan.

Aku tertegun membaca pesan Nabilla sebab kata-kata tersebut seperti sesuatu yang sangat kubutuhkan saat itu. Terkadang, mendapat kata-kata afirmatif seperti itu sangat menenagkan. Pesan pendek itu pun jadi awal yang baik untuk memulai perjalanan baruku. Sampai hari ini, aku masih menyimpan foto pesan itu di ponselku, dan sesekali melihatnya kembali.

Karena pesan Nabilla telah membantuku untuk menenangkan diri dan menghadapi ketakutanku, kuharap pesan tersebut juga membantumu, dear random souls on the internet.

Salam sayang,

Aku.