Gelisah

A(n) journal published on

Ada banyak sekali pikiran yang menumpuk di kepalaku secara bersamaan, sampai-sampai aku menghabiskan waktu sore hingga maghrib untuk tidur. Jadi seperti seonggok daging yang bernapas.

Aku tahu kalau terlalu banyak waktu luang tidak baik untukku. Libur panjang kuliah, terutama di pertengahan, acapkali membuatku stres sendiri. Sekarang, lebih buruk. Aku libur sampai waktu yang tidak ditentukan dan apapun yang kulakukan di masa ini bisa memengaruhi langsung masa depanku.

Ada beberapa kawanku setelah lulus menggunakan waktu ini untuk beristirahat sebelum harus berlari seperti hamster di dunia kerja. Aku ingin seperti itu. Tapi kok rasanya aku seperti dikejar waktu. Aku selalu merasa bersalah menghabiskan hari untuk bersenang-senang, yang membuat waktu senang-senangku jadi penuh rasa bersalah. Di benakku selalu muncul, “harusnya kamu mencipta sesuatu!”

Atau, “lihat, sudah habis bulan Januari dan kamu belum bikin apa-apa!”

Memang benar kata orang, musuh terbesar kita sebenarnya adalah diri kita sendiri. Padahal, satu bulan terakhir aku nggak gabut-gabut amat, kok.

  1. Menyelesaikan revisi tugas akhirku;
  2. Mengikuti workshop UI/UX;
  3. Menghadiri Melting Cheese;
  4. Mengantar Ayah kontrol ke rumah sakit, dua kali;
  5. Meminta maaf pada beberapa adik kelas karena sempat hilang-hilangan saat menjabat jadi wakil di organisasi;
  6. Melamar ke beberapa posisi kerja;
  7. Mengantar buku sumbangan ke komunitas yang menyalurkannya; dan
  8. Bersua dengan beberapa kawan lama.

Kegelisahanku yang lain dipicu oleh proses pencarian kerja yang mau tidak mau membuatku harus menyusun prioritas dan mengenal diriku lebih jauh. Beberapa hal yang membuatku sulit menentukan pilihan sebenarnya dari pilihan sendiri, masih idealis harus begini dan ingin begitu. Namun yang lebih penting, aku memikirkan bagaimana peranku sebagai pekerja nanti bisa sejalan dengan peran _caregiver-_ku.

Kayaknya aku akan menulis tentang pengalamanku sebagai caregiver, meskipun bukan yang utama. Aku sadar betapa pengalamanku cukup sulit untuk dilalui dan aku sering kali berharap ada orang dengan pegalaman yang sama untukku bertukar kisah. Alhamdulillah, teman-teman di sekitarku tidak ada yang menjadi caregiver yang berarti keluarganya sehat. :)

Kembali lagi, caregiver utama sebenarnya adalah ibuku. Namun, ia sering kali mendelegasikan tanggung jawabnya ke beberapa pihak. Anaknya yang paling banyak mendapat limpahan adalah aku, karena hanya aku yang belum bekerja dan punya banyak waktu luang. Aku harus mengantar ayahku kontrol ke dokter dua kali setiap bulan. Itu saja sih, tugas pokokkku. Hanya aja, pasti ada kemungkinan ayahku untuk kembali diopname akibat penyakitnya. Meski sekarang keadaannya semakin membaik, kemungkinan itu selalu ada. Belum lagi hal-hal tidak terduga lainnya.

Kedua kakakku sudah berkeluarga dan punya kehidupan masing-masing. Yang satu bekerja dengan jatah cuti 12 hari sementara yang satu lagi tidak bisa cuti dadakan dan jadwal kerjanya tidak menentu. Bantuan yang mereka berikan bersifat finansial, yang sangat aku apresiasi tentu. Namun, karena hal ini aku jadi khawatir siapa yang akan mengantar ayahku berobat, apabila bekerja nanti jatah cutiku juga hanya 12 hari?

Orang tuaku jadi pikiran terbesarku dalam mencari kerja, sih. Aku jadi enggan terjun di dunia ahensi yang dengar-dengar sangat sibuk dan selalu pulang larut. Selain karena aku juga butuh me-time untuk menjaga kewarasanku (aku telah belajar dari pengalaman yang cukup pahit), aku juga khawatir pada orang tuaku yang semakin menua. Aku takut terlalu sibuk kerja hingga tidak punya waktu lagi untuk mereka :(

Itu adalah beberapa kegelisahan yang sedang kurasakan saat ini. Saat ini, aku cuma bisa menyerahkan semua pada Allah karena semua pasti ada jalan dan waktunya. Aamiin~