Pikiran-pikiran yang Muncul Setelah Wisuda
Memang mungkin apa yang gue lakukan, selain mematuhi aturan administratif dari departemen, adalah menghindari kenyataan yang sebenarnya nggak bisa dihindari juga. Kelulusan dan keharusan untuk berani menentukan langkah selanjutnya. Gue sempat bilang ke seorang kawan kalau gue ingin mengambil waktu sebentar untuk memikirkan ulang apa yang ingin gue lakukan setelah kuliah. Sekarang gue sudah selesai kuliah, dan masih belum tahu mau ngapain.
Oke, sebenernya gue tahu. Tapi ada satu musuh utama yang setiap hari selalu mendatangi gue untuk memertanyakan kemampuan gue untuk bisa mencapai mimpi-mimpi gue: diri gue sendiri. The biggest bitch of them all.
Sebenarnya gue menghadiri wisuda dengan perasaan campur aduk. Senang bisa ketemu teman-teman. Mereka datang membawa diri dan pesan-pesan yang ditulis tangan untuk menemani kado yang mereka beri. Tapi ada yang kurang, sih, dari sekian orang yang datang untuk menemui gue. Satu orang terpenting yang gue harap baik-baik saja dan bisa bahagia dengan dirinya sendiri. Jadinya wisuda kemarin agak sedikit biru.
Biru lainnya datang dari tekanan yang datang dari sendiri yang skeptis sekali dengan acara seremonial seperti wisuda. Pikiran-pikiran yang terlintas di dalam benak gue saat duduk di antara sesama wisudawan di bawah naungan Balairung yang panas itu adalah, “oke, lo udah wisuda. Keren, dari the-so-called Kampus Perjuangan. Terus apa?”
Sesungguhnya, momen kelulusan ini benar-benar seperti menutup bab, membalikkan halaman, kemudian dihadapkan dengan halaman kosong. Apapun yang gue tulis di paragraf pertama akan memengaruhi pembaca untuk lanjut membaca atau tidak. Wow, perfeksionis banget, ya? Sebenarnya sih, halaman kosong nggak harus dilihat secara menyeramkan. Sebelum sidang, gue berpikir ingin cepat lulus karena ada banyak banget hal yang ingin gue coba lakukan. Setelah sidang kok malah loyo gini?
Salah satu alasannya adalah privilege yang gue (tidak) punya. Punya atau tidak pun gue belum tahu. Apakah gue bisa (punya kesempatan) menghabiskan waktu untuk benar-benar menjelajahi yang gue suka (tentunya dengan tidak sambil bekerja), yang berarti masih bergantung hidup pada orang tua atau langsung cari kerja aja supaya tidak membebani?
Kalau mau nyoba bisnis, jujur gue nggak punya simpanan. Ujung-ujungnya bakal minta orang tua lagi. Mau nyoba kerja full-time, kok gue merasa belum ada arah. Paling mungkin memang magang, tapi sampai sekarang gue belum dipanggil aja, nih. Hehe. Ya memang harus sabar.
Jujur, rasanya gue pengin ditabrak atau ditampar aja biar sadar tentang apa yang penting buat gue. Apa yang gue mau. Siapa gue aja pun gue nggak tahu.
Kata beberapa penyintas bunuh diri di Golden Gates (dalam suatu artikel yang gue lupa baca di mana), ketika mereka sudah terjun dari jembatan itu tiba-tiba mereka ingin melanjutkan hidup dan segala masalah yang membuat mereka ingin mati saja tiba-tiba ada solusinya. Bukannya gue pengin bunuh diri, ya. Gue cuma ingin mendapat kejelasan pikiran yang sama.
Kalau divisualisasikan, di kepala gue rasanya seperti ada badai yang datang dan pergi. Pergi kalau gue memupuk kepercayaan pada diri sendiri dan datang ketika gue lagi sendirian dan critical inner voice gue sedang mengambil alih. Di dalam badai itu ada segala kekhawatiran gue yang berputar dan nggak bisa gue jinakkan sehingga gue bisa amati dan kaji pelan-pelan. Lalu, ketika badai itu datang, hati gue akan terasa sangat berat dan tiba-tiba bisa nangis kalau kekhawatiran itu tidak disalurkan ke mana-mana. Tulisan ini adalah salah satu usaha gue untuk membedah kekhawatiran-kekhawatiran itu.
Sebenarnya yang ingin gue lakukan adalah mendiskusikan ini dengan sahabat gue, tapi dia baru menemukan bahwa kesendirian bisa menyenangkan juga. Gue yang lagi kacau begini nggak mampu mencapai solitude, malah jadinya kesepian karena harus berhadapan dengan diri sendiri yang suka banget ngomong jahat. Tapi mungkin memang Allah tetapkan begini, karena yang bisa menjinakkan critical inner voice gue ya hanya diri gue seorang. Berbincang dengan orang lain bisa jadi hanya cara gue kabur dari proses yang seharusnya gue lakukan.
Walau gue sempet ngebayangin juga sih kalau ada orang yang tiba-tiba datang dan berkata, “bisa nggak hari ini lo jangan dengerin diri lo sendiri dan dengerin kata-kata gue?” Di kepala gue kesannya romantis, tapi secara realistis kayaknya gue nggak akan bisa melakukan itu. Hahaha.
Ya, semoga gue bisa menemukan apa yang gue cari dan dasar dari kegelisahan ini. Kuharap demikian pula untukmu.