Tentang Kepulangan
Terkadang, saya sering berpikir bagaimana jika sebentar lagi saya berpulang. “Ya sudahlah, bentar lagi kan lo mati,” begitu pikirku. Kemudian, jika tiba-tiba saja pikiran itu terbesit, aku langsung menyapu pandangan ke sekelilingku, mencari makhluk yang kira-kira bukan dari dunia ini. Katanya, kalau seseorang akan meninggal, ia akan sering melihat sosok asing yang menunggunya. Ia pun perlahan akan tinggal di antara dua dunia.
Bukannya berdoa ingin mati muda, tapi kematian memang tidak bisa ditebak. Bisa saja saya mati besok, bukan? Atau setelah saya menulis ini. Siapa yang menjamin kalau saya masih bisa merayakan pergantian tahun depan atau bangun dari tidur malam ini?
Membicarakan dan memikirkan kematian memang bukan hal tabu bagi saya. Dalam keluarga saya, topik ini kerap diangkat sebagai guyonan oleh Mama. Ia kerap mengawali kalimatnya dengan, “kalau saya meninggal…” dan dilanjutkan dengan petuah, pesan, atau sekadar candaan.
“Kalau saya meninggal, kamu jangan lupa membagi warisanmu secara adil.” “Ya.”
“Kalau saya meninggal, kamu pasti akan ingat masa-masa makan setelah berenang bersama saya, ya?” “Iya.”
“Kalau saya meningal, jangan lupa jaga peralatan masak Mama yang bagus-bagus. Buat kamu saja, kakakmu nggak bisa masak.” “Oke.”
“Kalau saya meninggal terus nanti saya mendatangi kamu malam-malam, kamu takut nggak?” “Nggak, paling saya minta Mama masak sesuatu.”
Saya kerap merenungkan apa yang kira-kira akan saya sesali jika saya meninggal di umur tiga puluh tahun. Apa hal yang belum sempat saya sampaikan? Apa ada hutang yang belum terselesaikan? Hal apa yang akan saya sesali karena tidak melakukannya? Adakah permintaan maaf yang belum saya ucapkan?
Hmmm, saya rasa saya akan sangat menyesal menjalani hidup yang tidak bermakna dan tidak sesuai keinginan saya. Hati saya akan mencelos apabila saya tidak melihat kembali usaha terbaik saya dalam life rewind sesaat sebelum benar-benar mati. Maksud saya dengan life rewind adalah semacam kilas balik yang katanya akan dilihat semua orang mengenai kehidupannya sebelum meninggal. Ya, kayak Youtube Rewind gitu.
Ketika memikirkan itu, ada momen-momen yang membuat saya bersyukur dan lega karena melakukannya. Misalnya, ketika saya bertahan sampai akhir memertahankan keinginan dan perasaan saya terhadap sesuatu. Atau keberanian saya untuk mendelik pada penumpang angkot yang menjadikan kondisi hidup dan mati saya sebagai tontonan. Momen-momen yang membuat saya bangga pada diri sendiri.
Namun, ada banyak pula hal yang membuat saya bersedih. Kalau saya mati besok, saya akan kecewa pada diri sendiri karena belum memberikan usaha saya menjadi hamba yang baik. Hidup saya penuh dosa, berani sekali sering dengan ringannya berkata, “Ya Allah mau mati aja.” Saya juga kecewa karena tidak menjadi anak yang berbakti dan memahami orang tua. Atau karena tidak mencoba atau menunda melakukan hal yang ingin sekali saya lakukan.
Kemarin saya menonton ulang A Walk to Remember dan melihat Landon membantu Jamie mewujudkan hal-hal di bucket list-nya. Sampai saat ini saya tidak punya bucket list dalam hidup. Saya hanya sering membuat resolusi tahunan setiap tahun baru. Mungkin saya harus mulai membuat daftar hal-hal yang harus saya lakukan sebelum berusia tiga puluh tahun. Kalau dihitung memang masih delapan tahun lagi, tapi jika itu saya pikirkan sebagai sisa waktu hidup tentu rasanya sebentar sekali.
Selain memikirkan tentang kematian diri sendiri, saya juga sering memikirkan tentang kematian orang-orang terdekat saya. Kalau Papa dan Mama meninggal, apa yang akan kamu lakukan? Kalau kakak-kakakmu tidak ada, apakah kamu bisa bertahan hidup? Kalau
Terkait ini, saya juga sering memikirkan skenario-skenario. Misalnya, dalam suatu situasi menjelang kematian yang melibatkan saya dan seseorang yang penting dalam hidup saya, siapa yang akan saya selamatkan? Diri saya atau orang tersebut?
“Kalau lo cuma bisa nyelamatin diri sendiri ATAU nyokap, lo bakal nyelamatin siapa?”
_“_I dunno, masa depan dan potensi gue masih panjang. Dosa gue masih banyak. Mungkin gue harus nyelamatin diri sendiri?”
“Wow, egois juga, mikirin diri sendiri doang.”
“Nyokap mungkin akan berpikir demikian.”
_“_But will you be able to live after a decision like that?”
“That, I don’t know. Mungkin gue akan mengedepankan kemanusiaan saja. Mau hidup selama apapun gue pasti akan masuk neraka, menyelamatkan diri sekarang cuma menunda yang udah pasti terjadi aja. Mungkin gue akan hidup dengan rasa jijik ke diri sendiri karena sebegitu egoisnya. Jadi gue akan nyelamatin nyokap sebagai perbuatan baik terakhir gue. Kalau dengan niat begitu, itu hitungannya bunuh diri nggak, ya?”
… dan begitulah train of thought saya terus berlanjut.
_________
Oh ya, kemungkinan saya tidak bisa memerpanjang domain blog ini. Hahaha. Jika itu terjadi, maka saya akan terus menulis di deeperconvs.wordpress.com :)