Laut Bercerita dan Kesadaran Pribadi atas Politik
Saya baru saja selesai membaca Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Novel itu mengisahkan Biru Laut, seorang aktivis mahasiswa di masa Orde Baru yang dibunuh dengan ditenggelamkan ke laut dengan pemberat di kakinya. Membaca kisah Laut dan teman-temannya membuat saya berkali-kali menghaturkan rasa syukur atas kebebasan yang kita semua nikmati hari ini. Tanpa Laut dan perjuangan aktivis mahasiswa yang bergerak saat itu, bisa saja hari ini masih hidup di bawah cengkraman Orde Baru. Saya beberapa kali merasakan hati saya mencelos ketika membaca perjuangan Asmara serta orang tuanya menghadapi kenyataan bahwa anak sulungnya takkan pernah pulang ke rumah.
Tak berhenti sampai di situ, saya pun jadi membayangkan apabila saya menjadi mahasiswa di era Orde Baru. Akankah saya menjadi mahasiswi yang aktif bergerak di bawah tanah untuk mengakhiri kekuasaan Soeharto, ataukah saya akan jadi mahasiswi penurut yang menjalani hidup ala kadarnya saja tanpa punya nyali untuk memertanyakan otoritas?
Apabila keadaan saya dan keluarga sama seperti hari ini, mungkin saya akan jadi mahasiswi yang main aman tapi menahan gelisah dalam hati. Saya akan berusaha membantu teman-teman yang melakukan perjuangan dari jarak jauh. Entah bagaimana caranya.
Saya jadi ingat, dulu saya sangat apati dengan politik. Di masa-masa awal saya menjadi mahasiswi HI sekaligus FISIP, saya sadar telah melupakan satu hal penting: bahwa saya mau tidak mau akan belajar mengenai politik. Bagi saya, politik itu kotor. Penuh korupsi. Menjijikkan. Penuh orang-orang yang tamak.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya memahami bahwa politik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup. Ada kutipan menarik dari Pericles yang berbunyi, “just because you do not take an interest in politics doesn’t mean politics won’t take an interest in you.”
Salah satu contohnya bisa dilihat sekarang dengan perumusan RUU Permusikan yang menarik perhatian begitu banyak pihak. Selama dua puluh tahun, kita dimanja dengan bebasnya musik di Indonesia pasca Reformasi. Mereka yang menyukai musik belum tentu memahami dan mengikuti perkembangan politik. Tahu-tahu, “wakil rakyat” di DPR sana membuat RUU Permusikan yang sangat problematis dan berpotensi membatasi kebebasan berekspresi melalui musik. Hanya karena pecinta musik tidak mengikuti politik, bukan berarti para politikus tidak akan ikut campur mengenai musik. Begitu pula dalam bagian kehidupan yang lain, baik ranah publik maupun personal … seperti halnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.
Berpolitik di negara berkembang yang masih meraba-raba soal demokrasi tentu sulit dan berdinamika. Kita sudah merasakan sendiri bagaimana perkembangan politik dan demokrasi di Indonesia yang pasang surut. Namun, saya yakin itu semua adalah proses yang dijalani untuk mencapai suatu keajegan praktik politik dan bermasyarakat di era Reformasi. Pembimbing tugas akhir saya, Edy Prasetyono, sering kali menegaskan bahwa tidak ada yang instan soal ini. Lagi pula, hal-hal yang cepat datang akan cepat pula perginya.
Makanya saya gemas dan geli ketika membaca berita mengenai keluarga Soeharto yang mulai cari muka lagi di hadapan masyarakat. Mereka membawa iming-iming kejayaan (yang kosong) di era Orde Baru. Saya pribadi, sih, nggak percaya sama sekali apabila mereka mulai berlagak sok mengetahui kehidupan rakyat. Mereka lahir dengan sendok perak di mulutnya. Mana paham mereka mengenai harga kebutuhan pokok di pasar?
Kembalinya keluarga Cendana mengingatkan saya pada mantan presiden Korea Selatan Park Geun Hye, putri dari mantan Presiden Korea Selatan Park Chung Hee yang diktator pula. Sama seperti Soeharto. Sewaktu saya mengambil kelas mengenai Politik Semenanjung Korea saat studi singkat saya di Yonsei, profesor saya mengatakan bahwa Park Geun Hye bisa menang karena mengandalkan masa-masa kejayaan bapaknya. Padahal, ia sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan kehidupan rakyat Korea Selatan pada umumnya. Belum lagi trauma yang dihadapinya saat menyaksikan kematian ibunya yang ditembak di hadapan publik. Sudah ada contohnya, nggak usah lah sampai terjadi juga di Indonesia.
Ya, saya sih sedang berusaha meningkatkan literasi politik saya supaya tahu hak dan kewajiban saya sebagai warga negara. Sebagai tulisan opini saya tentang politik, ini sih masih cetek banget. Hahaha. Ya, mungkin harus banyak-banyak nulis soal ini supaya makin banyak baca soal politik :)
ps. saya beneran nggak akan perpanjang domain ini. sampai jumpa di deeperconvs.wordpress.com! :D