Keriuhan di Dunia yang Gelisah

A(n) journal published on

Aku baru saja selesai membaca buku Matt Haig yang berjudul “Notes on a Nervous Planet”. Ketika mendapatinya dalam amplop kardus Book Depository, aku langsung bersorak karena hari itu baru tepat sebelas hari sejak buku tersebut resmi dikirim dari Inggris. Namun, ketika melakukan skimming, aku agak kecewa sebab aku kira buku itu akan ditulis dengan gaya psikologi populer. Ternyata, isinya adalah esai-esai pendek Haig yang lebih mirip kumpulan tulisan blog.

Impresi pertamaku tidak bertahan lama. Ketika aku mulai membaca tulisan-tulisannya, aku seperti bertemu dengan orang asing yang memiliki kekhawatiran dan kegelisahan yang sama denganku. Rasanya hangat dan aku tidak terlalu merasa kesepian lagi. Ini bukan buku yang dibaca untuk mendapat pengetahuan baru, tapi untuk mencari dukungan dalam hidup yang senantiasa memudahkan kita untuk merasa gelisah.

Esai-esai pendek Haig berisi tentang pemikirannya terhadap dunia yang kita tinggali hari ini. Dinamika kehidupan kita kini nampak mirip di berbagai belahan dunia akibat internet, begitu pula kekhawatiran dan kegelisahan yang kita rasakan. Kita jadi lebih monoton dan mudah sekali untuk terlena mendengar/membaca/menonton konten yang sesuai dengan pemikiran kita. Tidak suka dengan pemikiran yang bersebrangan? Cukup tekan tombol unfollow atau mute.  Waktu 24 jam rasanya tak lagi cukup untuk mengerjakan hal-hal “produktif” yang tiada hentinya, apalagi harus sambil mau tidak mau membandingkan diri dengan orang lain setiap membuka media sosial.

Kadang aku merasa agak bodoh jika merasa overwhelmed dengan koneksi sosial yang dipermudah oleh media sosial dan ponsel pintar. Aku sering kali memergoki diriku menyelami lini masa media sosial yang kupunya tanpa sadar, tanpa tujuan Aku sadar diri bahwa aku acapkali menjadikannya sebagai distraksi dari hal-hal yang seharusnya aku lakukan. Kadang ketika sedang scrolling, aku bertanya pada diriku sendiri, “what are you avoiding this time?”

Ya, tentu media sosial ada manfaatnya juga. Ada setitik penyesalan dalam diriku karena memulai Mancay, aku harus selalu punya aplikasi Instagram di ponselku. Namun kembali lagi, Mancay bisa dilihat sebagai upayaku untuk menjadikan screen time yang aku habiskan menjadi lebih positif. Media sosial juga mempermudahku untuk mengetahui kabar kawan lama nan jauh. Hmmm… tapi tetap saja tidak ada yang mengalahkan panggilan telepon dan pertemuan tatap muka.

Dulu aku tidak suka berbicara di telepon. Aku tidak tahu harus bicara apa, bagaimana menjalankan percakapan supaya tidak canggung. Namun setelah beberapa kali melakukan percakapan telepon yang cukup lama dan menyenangkan, aku perlahan mulai menyukainya. Aku mengerti semua orang punya kesibukan masing-masing, dan berbicara di telepon dengan orang terdekat bisa jadi penawar … walau tidak seampuh pertemuan tatap muka.

Satu hal yang selalu aku ingat dengan baik dan selalu membawa perasaan hangat dari hubunganku yang lampau adalah percakapan telepon panjang yang dimulai karena salah satu dari kami menghadapi kemacetan ibukota. “Temenin, dong,” salah satu dari kami berkata. Those phone calls always brought smile to my face. I liked those that much. 

Haig juga menyinggung soal algoritma yang mengungkung kita dalam jenis media yang itu-itu saja. Ia menulis kalau rekomendasi di Youtube dan Spotify membuat kita mendengar musik atau menonton video yang mirip dengan yang sudah kita tonton dan sukai. Akibatnya, menurut Haig hal tersebut membuat kita sulit berempati dengan orang lain.

Aku setuju dengan poin itu. Kadang kita enggan menyaksikan atau mendengar hal-hal yang tidak pahami bahasanya atau tidak biasa kita tonton. Padahal, hal itu bisa membuka cakrawala kita mengenai jenis-jenis manusia yang lain. Misalnya, dari mendengarkan lagu-lagu Jepang, aku jadi bisa melihat bagaimana cara mereka memandang kehidupan dari kata-kata dan hal-hal yang diangkat. Begitu pula kalau kita mencoba mendengar lirik di lagu dangdut yang sering kali membahas pula soal kemiskinan, bertahan dalam hubungan yang toxic, dan lain sebagainya. Seni adalah salah satu kanal manusia mencurahkan isi hatinya, kan?

Sekali lagi aku ingatkan, buku Haig bukan buku informatif yang bisa menambah pengetahuan. Namun, buku ini bisa dijadikan teman dalam menjalani kehidupan yang kian menggelisahkan ini. Masih banyak hal yang membuatku mengangguk-angguk setuju di buku ini. Hehe tapi aku harus tidur karena esok harus beraktivitas dari pagi sekali! Tulisan ini sekaligus menandai comeback-ku ke blog gratisan ini! Hahaha.